Skip to main content

[FF] AU WCYL (Wajah Cinta Yang Lain) KETIKA SEMUANYA TERBONGKAR PART 1

Attention: Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan penulis asli dari WCYL, hanya sebatas HALU dari mimin yang suka menulis dan kebetulan suka sama sinetron ini. Jadi jangan OVT yaa .  . . selamat membaca, dan jangan lupa berikan komentar. Just Fan Fiction in Another Universe. Semoga warga DaNa suka. ^^

_________________________________________________________

“Lo mau pergi lagi, Ri?” tanya Nadin karena Ariana terlihat kembali sibuk setelah mereka kembali ke rumah Ariana sepulang kantor.

“Mas Davin minta ketemu.”

“Cie . . . . yang mau nge-date?”

Ariana hanya tersenyum. Ia lalu berjalan ke dapur dan mengenakan apron. “Mas Davin ngajak ketemuan di taman sih, ntar malem. Tumben banget ngga ngajak dinner. Mungkin lagi pengen udara segar dia.”

“Terus ini tuh, lo mau masakin?”

“Yang simpel aja, Din. Siapa tau dia laper. Aku buatin roti isi aja.”

Nadin mengangguk-angguk, “Ri?”

“Kenapa?”

“Kenapa lo ga bilang yang sebenernya aja sih sama Mas Davin lo itu?”

Ariana mengerutkan kening, “Maksud lo, Din?”

“Cepet atau lambat Pak Davin pasti tau semuanya. Termasuk identias lo kan?”

“Gue pasti bilang, Din. Tapi nanti setelah semuanya selesai.”

“Lo yakin dia akan menerima setelah tahu semuanya? Lo itu cuman menghindar Ri. Menurut gue, dia tahu lebih cepat lebih baik.”

Ariana menghembuskan napas berat. Perkataan Nadin benar, bahkan sangat benar. Namun, ada satu alasan kuat yang membuatnya sengaja mengulur waktu. Ia belum siap kehilangan senyum itu. Ia tidak ingin kehilangan segalanya, terutama kehangatan Davin yang bisa melenyap seketika begitu kebenaran terungkap. Mana mungkin Davin mau menerimanya setelah tahu bahwa sejak awal, ia datang hanya untuk memanfaatkan pria itu demi membalas dendam?

# # #


Davin terlihat sudah duduk di kursi taman lebih dahulu. Ia terlihat sama, tapi tatapannya terlihat berbeda.

“Mas? Udah dari tadi?” tanya Ariana.

Davin hanya mengangguk dan tersenyum tapi senyumnya tidak sampai pada matanya.

“Kenapa Mas? Lagi ada masalah di Serene Lab?” Ariana mau tak mau khawatir karena tidak pernah melihat Davin terlihat selelah itu.

Davin memandang Ariana dengan tatapan tidak seperti biasanya.

Ariana menyadari itu, tapi ia berusaha memberi ruang bagi Davin untuk menguasai dirinya sendiri. Ariana memilih membuka paper bag dan mengeluarkan tempat makan yang sudah disiapkannya. Mungkin makan akan membuat perasaan Davin menjadi lebih baik.

“Ri?” 

“Kenapa, Mas?”

“Ada yang mau kamu omongin ngga sama aku?”

Ariana menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia urung membuka kotak makan. Ariana menatap Davin dengan tatapan bingung. “Mas, ada masalah apa sebenernya? Ada masalah sama Risewell?”

Davin menggeleng.

“Dari aku ga ada masalah di Risewell. Apa mas menemukan sesuatu yang janggal?”

Davin kembali menggeleng.

“Mas kecapean ya? Makan dulu aja ya? Aku udah buatin roti isi. Semoga mas merasa lebih baik setelah makan.” Ariana kembali melanjutkan aktivitasnya membuka kotak bekal dan membuka tumbler yang sudah ia isi dengan peppermint tea.

“Ariana Shafa Maheswari?”

Ariana semakin heran dengan Davin. Ia tampak kebingungan karena Davin memanggilnya dengan nama lengkap.

“Atau haruskah aku panggil dengan nama Asti Paramita?”

Seketika Ariana menghentikan aktivitasnya, bahkan sepotong roti isi yang sudah ia siapkan dengan selembar tisu jatuh begitu saja ke aspal taman.

Ariana menatap Davin kali ini ia bisa melihat dengan jelas ekspresi kekasihnya itu. Davin menangis, ekspresinya penuh kepedihan dan kekecewaan. Ariana kaget, darimana Davin bisa tahu identitasnya.

“Mas . . . mas . .. dengerin aku.” Ariana memegang lengan Davin. Ia tidak bisa menyaksikan Davin yang begitu kecewa dan terpuruk. Hatinya seakan tercabik.

GLAARR . . . Suara halilintar tiba-tiba terdengar kencang.

Davin memegang tangan Ariana dan berusaha melepaskan dari lengannya, “Kamu senang bisa membuatku jatuh cinta? Kamu pasti tertawa melihat pria bodoh sepertiku melakukan segalanya untukmu? Tapi apa yang aku dapatkan? Cinta palsu?”

Hujan mulai turun disertai petir yang masih setia menemani jatuhnya air ke bumi.

“Aku terlihat terlalu gampang untuk dimanfaatkan ya, Ri?”

Ariana tidak bisa menahan air matanya. Air matanya turun bersama hujan deras yang ikut membasahi wajahnya. “Mas dengerin aku. Aku bisa jelaskan.”

“Cukup, Ri! Aku kira . . . aku kira aku berhasil menemukan cinta dalam hidupku lagi.” Davin semakin terisak. Ariana bisa merasakan bagaimana pria di depannya hancur, tapi ia merasakan rasa yang sama. Hatinya sakit, sesak, dan ia juga terluka sebanyak pria itu terluka.

Davin berdiri dari bangkunya. Ariana berusaha menahan langkah kaki pria itu dengan menahan tangannya.

Davin tidak berbalik, dia menghempaskan tangan Ariana dengan sedikit kasar. Hempasan tangan yang tidak menyakiti Ariana tapi begitu melukai hati wanita itu.

# # #

Ariana fokus dengan laptop di depannya. Sesekali ia membuka berkas yang ada di meja tersebut. 

Nadin masuk ke kamar Ariana tanpa mengetuk pintu. Ariana melihat sebentar lalu kembali fokus pada laptopnya.

“Ri?”

“Kenapa, Din?”

“Lo ngapain?”

“Lo ga lihat? Gue lagi ngerjain budgeting buat RiseWell tiga bulan ke depan.”

“Lo tahu banget itu bukan kerjaan lo. Itu kerjaan orang finance.

“Gue lagi ga ada kerjaan. Ga ada salahnya gue yang bikin buat masukan nanti ke orang finance.”

“Riii, please . . .”

“Kenapa sih, din?”

“Lo, rambut lo basah? Lo harus keringin dulu rambut lo nanti masuk angin.”

“Nanti kering sendiri.” Ariana kembali fokus pada pekerjaannya. “Udah Din jangan ganggu gue.”

Nadin tidak mengindahkan permintaan sahabatnya itu. Ia malah semakin mendekat ke meja Ariana. Dengan satu gerakan, Nadin berhasil menutup laptop Ariana.

“Din, lo ngapain sih? Gue lagi kerja.” protes Ariana.

“Gue udah tahu semuanya, Ri. Beno nelepeon gue, dia khawatir sama Pak Davin juga khawatir sama lo.”

“Apaan sih, gue ga papa. Hanya sebuah sandiwara yang terbongkar lebih cepat. Itu aja.” Ariana bersiap kembali membuka laptopnya tapi Nadin menahannya.

Tanpa berkata apa-apa, Nadin memeluk sahabatnya itu. “Lo bisa bohongin semua orang di dunia ini, tapi lo ga bisa bohong sama gue.”

Ariana berusaha melepaskan pelukan Nadin tapi Nadin semakin mendekap sahabatnya itu, “Kalo lo merasa tidak ada yang terjadi dan hanya sebuah kejadian dimana sandiwara lo kebongkar dan bukan sesuatu yang besar, kenapa lo bahkan ngga mengeringkan rambut lo. Lo kehujanan kan?”

Air mata Ariana akhirnya keluar tanpa permisi. Ariana tidak hanya menangis tapi ia sedikit meraung.

“Nangis aja, Ri. Keluarin semuanya. Jangan lo pendem sendiri. Gue ada di sini buat lo.”

Ariana tidak membalas perkataan Nadin, ia memeluk erat Nadin dan mengeluarkan semua emosi yang tertahan.

“Gue tahu, lo udah secinta itu sama Davin. Lo ga bisa bohongi perasaan lo sendiri.”

Ariana semakin mengeraskan tangisnya. Nadin mendekap sahabatnya itu. Membiarkan semua emosi Ariana keluar dalam tangisannya.

Next Part 2 . . .

Review dan Sinopsis yang mimin tulis murni dari mimin pribadi
Setiap orang berhak untuk setuju atau tidak setuju dengan pendapat mimin
Karena suka atau tidak suka dengan suatu FILM/DRAMA tergantung selera masing-masing
Dan pendapat mimin sama sekali tidak menjadi generalisasi bahwa pendapat orang lain pun sama
Mohon menghormati pendapat mimin, dan mohon berkomentar dengan sopan ya..
Terimakasih.. ^^

Comments

Popular posts from this blog

[Bahas Ending] K-Film "Memoir of A Murderer"

Suka sama akting nam gil

[Sinopsis + Review] C-Drama "King's Woman"

Setelah sekian lama ga BAPER banget sama

[Review + Sinpsis] China-Wuxia-Collosal "Princess Agent"

HUWAAAA suka banget sama drama ini kecuali endingnya TT,TT XiaoLiu harus mendapati dirinya menjadi target