Ariana bangun dari tempat tidurnya dengan kepala yang sangat berat. Ia tidak tidur sama sekali dan terus menangis. Perasaannya sedikit lebih lega karena Nadin juga membersamainya semalaman. Tapi ada perasaan yang masih begitu mengganjal di hatinya. Davin memang sudah tahu semuanya, tapi ia harus berbicara dengan pria itu. Davin boleh marah dan kecewa tapi satu hal yang pasti harus dia tahu. Pertemuan mereka memang sudah ia rencanakan, ia juga yang berencana memanfaatkan Davin, tapi ia benar-benar menyukai pria itu. Tidak ada kebohongan dalam perasaannya. Setidaknya Davin harus tahu perasaan Ariana padanya, dan setelah itu, Davin baru boleh membuat keputusan. Akan seperti apa hubungan mereka kedepannya.
Davin boleh marah karena merasa dibohongi tapi ia tidak berhak meragukan perasaan yang Ariana punya untuk Davin, hanya untuknya.
Ariana sedikit oleng ketika ia berdiri. Ia cepat-cepat menyeimbangkan tubuhnya. Ia harus ke Serene Lab bertemu dengan pria itu, berbicara dengan benar. Ariana segera masuk ke kamar mandi untuk bersiap.
Tok tok . . .
“Masuk.”
Nadin masuk ke kamar Ariana dengan nampan berisi roti panggang dan segelas susu, “Ri? Gue kira lo belum bangun? Lo mau kemana udah siap-siap sepagi ini? Jangan bilang lo . . .”
“Gue mau ke Serene Lab, Din.”
Nadin meletakkan nampan di meja Ariana, “Lo mending istirahat dulu, Ri! Lo ngga tidur cukup tadi malam! Mata lo bengkak, dan emosi lo juga belum stabil begitupun mungkin sama Pak Davin. Mending kalian ambil waktu sendiri-sendiri dulu ngga sih? Biar kalian bisa lebih tenang dengan masalah kalian ini.”
“Waktu bukan jawaban untuk masalah gue kali ini, Din. Bagaimanapun gue perlu bicara dengan benar sama Mas Davin. Dia perlu dengar penjelasan gue. Setelah dia denger penjelasan gue, baru keputusan dia untuk menentukan mau bagaimana kedepannya.”
“Oke Ri, kalau itu pilihan yang menurut lo terbaik. Tapi lo perlu makan dulu sedikit ya, biar lo punya tenaga dan ngga pingsan sebelum lo ngobrol sama Pak Davin.”
Ariana mengangguk, ia mengambil roti panggang dan menggigitnya hanya satu gigitan lalu meneguk sedikit susu untuk memaksa roti itu masuk ke dalam kerongkongannya.
“Makan banyakan, Ri.”
“Makasih, din. Udah cukup. Gue berangkat dulu. Lo langsung aja ke RiseWell nanti gue juga langsung ke sana dari Serena Lab.”
# # #
Ariana naik ke lantai dimana kantor CEO Serene Lab berada. Ia langsung masuk ke kantor CEO dan langsung bertemu Beno yang langsung berdiri menyambutnya.
“Bu Ari?”
“Mas Beno. Mas Davin ada?”
Beno hanya diam. Dia bingung harus mengatakan apa.
Ariana tidak sabar, ia menerobos masuk ke ruangan Davin.
Ruangan itu kosong. Semuanya terlihat rapi karena baru dibereskan. Terlihat belum ada yang masuk ke ruangan itu. Harum samar tercium dari pewangi ruangan.
“Mas Davin belum datang?”
Beno kembali terdiam. Bingung dan ragu harus mengatakan apa.
“Mas Beno?”
“Anu Bu, itu . . .”
“Dia menghindar lagi? Atau tiba-tiba ke luar kota mendadak.”
Beno hanya bisa diam membisu.
Ariana tidak tega. Bagaimanapun Beno adalah PA dari Davin. Ia tidak boleh memaksa atau meminta Beno mengatakan keberadaan Davin.
“Oke.. kalau kamu ga bisa bilang dia dimana. Kalau begitu saya minta waktu kamu aja Mas Beno. Bisa?”
“Saya bu?”
Ariana mengangguk.
“Mau bicara dimana? Di cafe? Di sini? Ruang meeting? Kamu yang pilih.” tawar Ariana.
“Di ruangan bapak nerima tamu aja, bu.”
“Oke.”
Beno duduk setelah Ariana duduk terlebih dahulu. Ia sedikit tegang karena tidak tahu dengan apa yang akan dibicarakan Ariana.
“Ibu baik-baik saja, bu?” tanya Beno karena melihat wajah Ariana yang terlihat begitu kelelahan.
“Saya? Saya baik-baik saja.”
“Syukurlah, Bu.”
“Beno tolong kamu jawab jujur. Karena saya yakin kamu tahu semuanya. Dan mungkin kamu juga yang mencari tahu tentang saya sampai Mas Davin tahu tentang saya.”
“Maaf, Bu. Saya hanya menjalankan tugas seperti yang Pak Davin minta.”
“Iya , , , gak papa. Saya tidak menyalahkan kamu. Saya hanya ingin tahu sejauh apa Mas Davin tahu tentang masa lalu saya?”
“Bapak tahu nama asli ibu, Alasan ibu mendekati bapak. Dan ibu mau balas dendam pada Pak Bima dan Bu Pamela yang sudah berselingkuh di belakang ibu.”
“Yang lainnya?”
“Ada yang lainnya, bu?”
“Alasan saya mendekatinya? Apa Mas Davin hanya tahu karena saya ingin memanfaatkan kekuatan dan kekuasaannya?
“Saya belum menyelidiki lebih dalam, bu. Bapak juga belum memberikan arahan lain pada saya.”
Ariana mengangguk. “Terimakasih, Mas Beno. Saya akan mencari tahu sendiri keberadaan Mas Davin. Saya tidak akan memaksa kamu membocorkan keberadaan Mas Davin.” Ariana berdiri dari kursinya.
“Bu?”
“Kenapa Mas Beno?”
“Boleh saya bilang sesuatu?”
Ariana kembali duduk. “Ada apa?”
“Sebenarnya bapak itu kasian, Bu. Mungkin saya seharusnya tidak mengatakan ini. Tapi saya akan kasih tahu garis besarnya.”
“Tentang apa?”
“Masa lalu Pak Davin.”
Ariana mulai memfokuskan diri sepenuhnya untuk mendengarkan Beno.
“Mungkin ibu tahu dan merasa Pak Davin memiliki trauma ketika berhubungan dengan rumah sakit.”
Ariana tiba-tiba teringat saat Davin tiba-tiba memeluknya saat kakinya terkilir dan ia harus ke IGD. Padahal saat itu hubungan kontrak mereka belum lama. Lalu Davin juga sempat menangis sendirian dan langsung memeluk dirinya saat ia berada di Rumah Sakit karena Bu Ismi.
“Pak Davin dulu memiliki kekasih bu, sangat ia cintai. Tapi kekasihnya itu meninggal mendadak karena kecelakaan. Pak Davin sendiri yang mengantarnya ke rumah sakit. Semenjak kejadian itu, Pak Davin menjadi lebih dingin, tertutup, dan yang paling penting Bu, ia seperti hidup di dunianya sendiri. Ia pindah dari rumah ibunya dan seperti menutup dirinya dari dunia luar. Pak Davin terlihat masih baik-baik saja, ia menjalani harinya dengan normal dan bisa memajukan Serene Lab semakin baik dari hari ke hari, tapi ia tak pernah lagi membuka hatinya kepada siapapun. Apalagi terhadap wanita.”
Ariana mengerutkan keningnya. Ada penyesalah yang tiba-tiba masuk ke dalam hatinya.
“Sampai Bu Ariana datang ke dalam hidupnya. Saya sebagai PA dari Pak Davin merasa Pak Boss menjadi lebih terbuka, sering tersenyum, dan Pak Davin menjadi lebih terlihat seperti manusia. Dia akhirnya membuka hatinya setelah tertutup lama bertahun-tahun. Jadi bu, tolong jangan desak Pak Davin tentang apapun. Saya rasa Pak Davin sangat terluka karena masalah ini. Dia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Tolong beri waktu untuk Pak Davin ya, bu?”
Ariana ragu sejenak. Ia ingin meluruskan sesuatu, tapi ia juga tidak tega jika karena dirinya Davin bisa terluka lebih dalam.
Ponsel Beno bergetar. Ia merogoh ponsel dari saku celananya. “Permisi, Bu. Izin saya angkat.”
Ariana mengangguk.
‘Hallo, dokter Hendra? Oh begitu? Iya baik. Saya ke rumah Pak Davin sekarang.’ Beno segera mematikan ponsel dan memasukkan kembali ke sakunya.
“Maaf, Bu. Saya harus pergi.”
“Tunggu Beno. Barusan telepon dari dokter? Kenapa? Jangan bilang . . .”
Beno tampak ragu-ragu, sampai akhirnya dia menguatkan tekad. Hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk bosnya.
“Pak Davin demam tinggi tadi malam, Bu. Dia sempat menelepon saya. Tapi Pak Davin tidak mau ke rumah sakit, juga tidak mau Bu Rita tahu. Jadi tadi malam dia minum obat dan beristirahat di rumah. Pagi ini saya teleponkan dokter pribadi keluarga Mahesa. Katanya saat tiba, kondisi Pak Davin dalam keadaan tak sadarkan diri.”
“Mas Davin di mana sekarang?” Jantung Ariana seperti berhenti berdetak, ia ketakutan terjadi sesuatu pada Davin.
“Masih di rumahnya, Bu. Saya akan bawa ke IGD jika tidak membaik. Ibu jangan khawatir. Saya akan jaga Pak Davin. Kalau ada sesuatu, nanti saya kabarin. Saya permisi dulu, Bu.”
“Tunggu Mas Beno, saya ikut.”
Beno kembali ragu karena ia diberitahu Davin saat berkunjung tadi malam, bahwa ia tidak boleh memberitahukan keberadaan dan keadaan Pak Davin pada orang lain termasuk Ariana. Namun melihat Ariana begitu khawatir, Beno mencoba menghilangkan keraguannya.
“Ayo, Bu!”
Next di Part 3 . . . . ^^

Comments
Post a Comment
DONT BE SILENT READER, pleaase comment.. ^^ NO BASH