‘Langsung pulang aja Din, kalau urusan di
Serene Lab udah beres. Gue lanjut ke RiseWell gausah disusulin. Lo istirahat aja yaa. Thx.’Nadin membaca chat itu dengan sedih.
“Makan dong, Din.” tawar Beno sambil menggeser piring berisi roti isi mendekat ke arah Nadin.
“Gue ga selera, Ben. Belakangan ini perasaan banyak masalah ya Pak Davin sama Bu Ariana.”
“Lo tau detail masalah mereka?”
Nadin kaget, ia kelepasan. Padahal masalah masa lalu Ariana harusnya hanya diketahui oleh Davin, Beno, dan Ariana. “Ngga, maksud gue. Lo kan yang waktu itu bilang sama gue kalau harus jaga Bu Ariana karena lagi ada masalah sama Pak Davin?”
“Ohh, kirain lo tahu rinciannya masalah mereka.”
“Kalau gue bilang gue tahu emang kenapa, Ben?”
“Lo tahu masa lalu Bu Ari?” Beno mengencangkan suaranya membuat beberapa karyawan yang masih di kantor karena ada kerjaan malam jd fokus pada mereka.
“Sstt . . . Jangan berisik, Ben!” Nadin menempelkan jari telunjuknya di bibir.
Beno cepat-cepat menyadari keteledorannya dan membungkam sendiri mulutnya.
“Pak Davin dimana sekarang, Ben?”
“Udah pulang. Dia mampir sebentar buat ngerjain kerjaan yang ga bisa diwakilin. Dia masih sakit deh kayaknya.”
“Ben, anterin gue ke rumah Pak Davin. Gue harus lakuin sesuatu.”
“Ngapain, Din? Pak Davin lagi ga bagus mood-nya nanti kita kena semprot.”
“Udah buruan, ayok!” Nadin bangkit dari kursi, dan menarik Beno agar segera mengikuti langkahnya.
# # #
“Langsung masuk nih, Din?”
“Lo tahu kan passkey pintu rumah Pak Davin?”
“Ya, gue tahu tapi kalau nanti Pak Davin marah kita masuk gimana?”
“Udah, itu urusan nanti, kalau kita nyalain bel. Yang ada kita malah ga dibiarin masuk.”
“Bener nih, Din?”
“Buruan Beno!”
“Iya . . .iya . . .” Beno segera memasukkan kode rumah Davin dan tak lama kemudian suara pintu terbuka terdengar.
Davin sedang duduk di ruang tamu sendirian. Dia tampak melamun sampai kehadiran Beno tidak disadarinya.
“Pak? Permisi Pak Davin.”
Davin menatap Beno, tidak ada tatapan marah atau kesal. Hanya tatapan kosong. “Ben? Kenapa? Ada kerjaan yang urgent sampai disusulin ke rumah?”
“Anu Pak.”
Nadin segera melangkah dari persembunyiannya di balik badan Beno. “Selamat Malam Pak Davin.”
“Oh, Nadin. Kenapa, Din? Ada masalah di RiseWell? Saya sudah dengar dari Ariana tentang rencana dia melepas kepemilikan RiseWell.”
Beno kaget karena baru mendengar kabar itu. Ia tampak ingin menanyakan detailnya pada Nadin. Tapi Nadin menggenggam pergelangan Beno agak keras dan meminta Beno untuk menahan semua pertanyaannya.
“Boleh saya duduk, Pak?”
“Oh iya, silahkan!”
“Sejujurnya saya ke sini bukan tentang masalah kantor, Pak. Termasuk masalah yang berhubungan dengan RiseWell.”
“Tentang apa kalau begitu?”
“Saya perlu meluruskan sesuatu tentang Ariana.”
“Ariana?” Davin heran karena Nadin memanggil langsung Ariana tanpa tambahan Bu yang biasanya identik panggilan bawahan pada atasan.
“Hal pertama yang harus bapak tahu. Saya bukan hanya PA dari Ariana. Saya sahabat dekat Asti.”
Davin menahan nafasnya, ia tampak kesal karena menemukan kebenaran lain dari semua kebohongan yang Ariana buat. Davin berdiri, ia takut tidak bisa menguasai emosinya.
“Tunggu, Pak Davin. Saya akan jelaskan semua detailnya. Apa Pak Davin tidak ingin mendengar semua cerita utuhnya? Apa Pak Davin tidak penasaran tentang masa lalu seorang Asti sampai ia akhirnya merencanakan semua ini?”
“Sudah cukup banyak kebohongan terungkap yang saya temukan. Saya tidak mau tahu lebih banyak lagi.” Davin bersiap meninggalkan Nadin dan Beno.
“Asti tidak merubah wajahnya karena ia ingin, Pak! Asti menjadi target pembunuhan dan wajahnya disiram air keras.”
Davin sedikit kaget. Ia memandanga Nadin dengan tatapan tak percaya.
“Tolong berikan saya sedikit waktu untuk menjelaskan. Karena Ariana sudah memutuskan untuk tidak menjelaskan dirinya pada Pak Davin.”
Melihat Davin yang mulai ragu, Beno bertindak. Ia mencoba mendudukkan Davin kembali di kursinya.
“Wanita yang bapak selamatkan hampir 2 tahun yang lalu. Yang polisi tahu bernama Nonik. Itu Asti Pak. Ariana adalah wanita yang bapak selamatkan itu.”
Davin terdiam.
Nadin lalu menceritakan semuanya, termasuk tragedi Asti kehilangan bayinya karena kejadian itu dan berniat mengakhiri hidupnya.
Mata Davin berkaca-kaca. Ia tiba-tiba ingat bagaimana Ariana seperti begitu sedih ketika ia mengatakan bahwa menjadi seorang ibu adalah cita-citanya.
Beno yang duduk di sana juga merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu, “Pak. Yang menjaga bapak semalaman. Itu juga sebenarnya Bu Ariana. Tapi dia bersikeras tidak mau bilang karena takut menjadi beban untuk bapak.”
Davin bangkit berdiri. Tiba-tiba ia merasakan perih di hatinya. Dia tidak tahu perasaan Ariana padanya palsu atau tidak. Namun yang Davin tahu jelas, perasaannya pada Ariana sangat kuat. Ia tidak mau Ariana meninggalkannya. Jika memang Ariana tidak pernah mencintainya, maka Davin merasa ia hanya harus berjuang lagi agar Ariana mau memberinya kesempatan. Davin tahu ia menyayangi Ariana lebih dari dirinya sendiri, sehingga ketika mendengar masa lalu Ariana yang begitu menyedihkan, tidak ada yang Davin rasakan kecuali rasa sakit, sedih dan menyesal. Ia menyesal tidak berada di sana untuk melindungi Ariana ketika semuanya terjadi.
Rasa cinta Davin lebih besar daripada rasa kecewanya. Lagipula kenapa dia harus peduli identitas Ariana? Apakah dia itu adalah Asti atau Ariana. Yang penting Davin tahu dia mencintai wanita itu bukan wanita lain.
“Ariana berencana menghilang dari hidup Pak Davin setelah menyelesaikan semua kewajibannya di RiseWell. Ia ingin Pak Davin memulai hidup baru. Dan Ariana yakin, Pak Davin akan lebih baik tanpa Ariana.”
Davin mengepalkan tangannya sampai buku jarinya memutih, “Ariana dimana Din?”
“Ariana di RiseWell, Pak! Dia sedang membuat finalisasi tentang pemindahan kepemilikan RiseWell.”
# # #
Akhirnya selesai. Ariana sudah menyiapkan proposal pemindahan kepemilikan bagi investor yang mungkin akan menjadi pemilik baru RiseWell. Ia melirik jam ditangannya. Sudah lewat jam 11 malam. Karena terlalu berkonsentrasi ia jadi tidak memperhatikan berapa banyak waktu yang telah ia lewatkan.
Ia membereskan laptop dan berkas yang mungkin masih bisa ia cek nanti di rumah. Tidak ada pesan di ponselnya. Padahal biasanya Davin akan bawel menyuruh Ariana pulang karena sudah terlalu larut. Ia akan bersikeras menjemput, atau kalau Ariana keras kepala dan mau menyelesaikan pekerjaannya, Davin akan datang menemaninya. Walau di hanya duduk disebelahnya dan sibuk juga dengan pekerjaannya sendiri.
Ariana memandangi cincinya. Ia melepas perlahan dan meletakkannya dengan aman di tas-nya. “Aku lepasin kamu, Mas. Kamu harus bisa melupakan semua kenangan kita dan temukan wanita lain yang benar-benar tulus.” Ada setitik air mata yang mengalir di sana. Ariana memegang liontin pemberian dari Davin, “Yang ini ngga akan kulepas ya, Mas. Ini jadi janji aku kalau aku tidak berpaling, aku tidak meninggalkanmu karena aku terluka atau tidak lagi mencintaimu. Aku ingin kita kembali seperti yang kamu bilang bahwa pertengkaran mungkin terjadi tapi kita akan terus bisa kembali, tapi kali ini tidak akan pernah bisa.”
Ariana berdiri dan ia mulai kehilangan keseimbangan. Dia sadar dia kelelahan. Menangis karena Davin tahu semuanya, menjaga Davin di malam berikutnya, dan mengurus Risewell hari ini. Dia harus segera pulang dan beristirahat. Ia perlu kuat untuk menyelesaikan semuanya.
Belum terlalu jauh Ariana menyetir, dijalanan yang cukup sepi, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang pria yang muncul tiba-tiba.
CKIIT . . . BRUK . . .
“Astaga, aku nabrak orang?” Ariana panik. Ia segera melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil.
Seorang pria tersungkur tepat di depan mobil Ariana.
“Pak, Bapak ga papa?”
Tiba-tiba dua buah motor datang di depan Ariana. Dua orang membawa samurai dan clurit. Pria yang tersungkur tadi tiba-tiba bangkit. Ariana hanya bisa diam. Dia sadar ia tampaknya menjadi sasaran pembegalan.
Pria yang membawa clurit turun, bermaksud menakut-nakuti Ariana agar menyingkir dan menyerahkan mobilnya.
Ariana mencoba defensif. Ia tidak peduli dengan mobil dan barang-barang di mobilnya. Tapi setidaknya nyawanya harus selamat. Ia harus menyelesaikan semua masalahnya, agar Davin bisa kembali hidup bebas.
Tindakan Ariana yang defensif malah membuat pembawa samurai jadi kesal. Ia menyangka Ariana tidak takut dan mencoba melawan, Ia membuka samurai-nya dan bersiap melukai Ariana.
Kepala Ariana berdenyut hebat, tiba-tiba semua menjadi gelap baginya.
SyAAT. . . Pedang itu mengenai tangan seseorang sampai berdarah.
Pemilik samurai sedikit terkejut karena tiba-tiba ada orang yang merelakan tangannya menjadi tameng hidup bagi wanita itu.
Pria penyelamat itu melirik pria samurai dengan tatapan marah. Tatapan yang begitu menakutkan sampai pria itu mundur beberapa langkah.
Ariana sempat membuka matanya. Berusaha sekuat tenaga mempertahankan kesadarannya. Samar ia melihat bayangan seseorang, aroma tubuh yang sangat familiar, “Mas Davin.” lirihnya sampai benar-benar hilang kesadaran.
NEXT LAST PART (PART 6)
Review dan Sinopsis yang mimin tulis murni dari mimin pribadi
Setiap orang berhak untuk setuju atau tidak setuju dengan pendapat mimin
Karena suka atau tidak suka dengan suatu FILM/DRAMA tergantung selera masing-masing
Dan pendapat mimin sama sekali tidak menjadi generalisasi bahwa pendapat orang lain pun sama
Mohon menghormati pendapat mimin, dan mohon berkomentar dengan sopan ya..
Terimakasih.. ^^
Comments
Post a Comment
DONT BE SILENT READER, pleaase comment.. ^^ NO BASH