Skip to main content

[FF] AU WCYL (Wajah Cinta Yang Lain) KETIKA SEMUANYA TERBONGKAR PART 3

DISCLAIMER: Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan penulis asli dari WCYL, hanya sebatas HALU dari mimin yang suka menulis dan kebetulan suka sama sinetron ini. Jadi jangan OVT yaa . . . selamat membaca, dan jangan lupa berikan komentar. Just Fan Fiction in Another Universe. Semoga warga DaNa suka. ^^

_______________________________________________________________________________


Ariana masuk ke rumah Davin perlahan di belakang Beno. Ia tidak ingin mengagetkan Davin, jika ia langsung terlihat.

Dokter Hendra

menyambut kedatangan mereka. Ariana mengintip sedikit di balik badan Beno yang menjulang, ia bisa melihat Davin tengah terlelap dengan wajah pucat. Hati Ariana mencelos, ia merasa sedih melihat keadaan Davin.

“Gimana, dok? Apa perlu kita bawa langsung ke rumah sakit?”

“Pak Davin tadi sempat sadar. Jadi untuk sementara pantau setiap dua jam Mas Beno. Kalau suhunya sudah diatas 39,4 dan tidak kunjung turun, segera bawa ke IGD jangan ditunda lagi.”

“Baik, Pak Dokter terimakasih.”

“Kalau Pak Davin nanti bangun dan sadar kembali. Jika memungkinkan boleh diberi makan yang lembut seperti bubur atau sup hangat. Sepertinya Pak Davin juga tidak makan apa-apa dari kemarin. Saya berikan juga resep obat yang harus diminum setelah Pak Davin makan.”

“Baik, Dok. Saya mengerti.”

“Untuk sementara jangan dibiarkan sendiri ya. Pantau terus suhu tubuhnya. Kalau sudah mulai menunjukkan penurunan signifikan baru boleh ditinggal.”

“Terimakasih, dok.”

“Sama-sama. Mari Pak Beno saya pamit.”

“Mari dok saya antar.”

Beno meninggalkan Ariana dan Davin di ruangan itu. Ariana mendekat perlahan ke ranjang Davin. Sedikit ragu, ia menyentuh tangan Davin. Panas. Benar-benar seperti terbakar.

“Mas kamu kenapa? Kamu sakit gara-gara aku?” ujar Ariana lembut nyaris tak terdengar. Air matanya sudah menggenang dari tadi.

“Bu?” Beno sudah kembali, Ariana segera menyeka air matanya yang hampir jatuh.

“Iya Mas Beno?” 

“Ibu kan sudah lihat bapak. Biar saya yang jaga sekarang. Kalau ada apa-apa, pasti saya langsung kabarin. Kalau ibu di sini, saya takut bapak malah marah nantinya.”

Ariana menggeleng, “Saya mau di sini Mas Beno. Walau Mas Davin nanti marah. Saya tetap mau di sini.”

Ponsel Beno bergetar, Beno pamit untuk mengangkat telepon. Tak lama kemudian Beno kembali dengan raut wajah yang bingung.

“Kenapa Mas Beno?”

“Ada kerjaan yang ga bisa ditinggal Bu. Saya harus balik ke kantor. Bagaimana kalau ibu saya antar juga ke RiseWell sekalian saya ke Serene Lab?”

“Terus siapa yang jaga Mas Davin?”

“Saya panggil mbok yang kerja di sini Bu. Atau saya bisa panggil perawat dari rumah sakit.”

“Ngga Mas Beno. Biar saya yang menjaga Mas Davin.”

“Tapi Bu . . .”

“Ngga usah khawatir. Kalau ada apa-apa saya pasti kabarin kamu. Ya?”

“Kalau begitu saya titip bapak ya bu.”

“Ariana mengangguk.”

Begitu Beno pergi, Ariana langsung masuk ke dapur Davin. Ia teringat beberapa kejadian di sana. Davin yang membentaknya karena masalah mesin teh, tapi mereka juga punya kenangan bahagia di sana. Saat Ariana memasak dan Davin membantu mencuci sayur dan menyiapkan alat makan. Sudah banyak kenangan indah yang mereka bagi bersama. 



Ariana menghembuskan nafasnya sejenak. Bukan waktunya untuk mengingat memori mereka. Ia harus fokus untuk membuat makanan kalau saja Davin nanti bangun, Ariana lalu mulai membuka kulkas Davin dan mengeluarkan semua bahan yang diperlukan untuk membuat bubur dan sup hangat.

Setelah selesai, Ariana menatanya dalam sebuah nampan dan membawanya ke kamar Davin. Ariana berjalan perlahan agar tidak menimbulkan suara yang bisa mengganggu Davin. Ia meletakkan nampan itu di nakas dengan sangat hati-hati.

Ia lalu mengambil thermometer gun dan mulai mengecek suhu Davin.

“39,2. Masih tinggi banget.” Ariana kembali ke luar ruangan mencari handuk muka dan menyiapkan mangkuk air hangat, ia perlu mengompres. Tidak lupa ia juga menyiapkan handuk kering untuk menyeka keringat Davin.

Ariana bersimpuh untuk mensejajarkan dirinya dengan tinggi ranjang Davin. Ia memasukkan satu handuk kecil ke dalam mangkuk berisi air hangat, membiarkannya sebentar agar handuk itu menjadi cukup hangat.

“Ah iya, aku harus kabarin Nadin.” Ariana beranjak sebentar. Mengambil handbag nya dan mulai menulis pesan.

‘Din, Gue ngga ke RiseWell hari ini. Tolong handle dulu kerjaan gue yang masih bisa lo kerjain. Kalau ada yang bener-bener harus sama gue tolong pending aja, Din. Gue lagi di rumah Mas Davin. Dia sakit.’

Tak lama kemudian Nadin membalas pesan Ariana, ‘Oke, Ri. Take care. Don't worry.’

Ariana lega. Ia memasukkan kembali ponselnya dan melanjutkan apa yang tadi sedang ia lakukan. Ariana bersimpuh dan mulai memeras handuk yang kini sudah terasa lebih hangat.

Perlahan ia meletakkan handuk kecil itu di dahi Davin. Ia juga menggunakan handuk kering untuk menyeka keringat Davin di sekitar leher dan wajahnya. Davin terlihat pucat dan menderita.

Tiba-tiba, ekspresi Davin berubah. Kerutan di dahinya muncul seperti sedang melawan ketakutannya sendiri.

“Ri . . . Ari . . .” Davin bergumam tapi matanya masih tertutup.

Ariana panik. Ia menyingkirkan handuk di dahi Davin. Ia duduk di sisi ranjang Davin. Mengusap perlahan wajah yang memerah karena demam. “Mas . . . mas . . . tenang ya Mas.”

Perlahan kelopak mata Davin bergerak. Ia membuka matanya. Mata mereka saling bertemu. 

Entah kekuatan darimana. Davin langsung duduk begitu pandangan mereka bertemu. Ia lalu menarik Ariana ke dalam dekapannya.

Suhu panas tubuh Davin karena demam langsung bisa Ariana rasakan. Ariana sempat bingung tapi ia memilih membalas pelukan Davin dan mengusap perlahan punggung Davin. Tubuh pria itu bergetar. Menangis.

Tak lama kemudian, Davin mulai melepaskan pelukannya. Mereka bertatapan. Wajah Davin penuh air mata. Ariana mengusap air mata Davin dengan jari-jarinya. Perlahan dengan penuh kelembutan.

“Kenapa? Kenapa nangis? Hmm?” tanya Ariana lembut, sambil terus membersihkan sisa-sisa air mata di wajah Davin.

“Ri. Aku bermimpi.” jawab Davin dengan suara parau.

“Mimpi apa sampai buat Mas Davin menangis kayak gini?”

“Mimpi bahwa kamu adalah wanita yang jahat. Wanita yang mendekatiku karena punya alasan tertentu dan kamu tidak pernah mencintaiku. Kamu hanya bersandiwara untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan.”

DEG

Ariana sadar. Mungkin Davin sedikit berhalusinasi dan sulit membedakan mana kenyataan dan mana mimpi karena demamnya. Tidak mungkin Ariana mengatakan bahwa itu semua bukan mimpi, atau menjelaskan apa yang selalu ingin ia jelaskan. Ariana memilih untuk ikut ke dalam imajinasi Davin.

Ariana tersenyum. Ia mengambil handuk kering tadi dan mulai menyeka keringat di dahi Davin. “Itu hanya mimpi, Mas Davin. Aku ada di sini kan?”

Davin menghentikan gerakan tangan Ariana yang sibuk menyeka keringatnya. “Kamu ga akan begitu kan, Ri?” tanya Davin meminta jawaban.

Ariana berusaha mati-matian menahan air matanya untuk tidak keluar. Ia memandang mata Davin dan kembali tersenyum. “Mas lagi sakit. Jadi banyak yang muncul di kepala mas. Jangan dipikirin ya?”

Davin seperti tak puas dengan jawaban Ariana, tapi Ariana tidak memberikan kesempatan untuk Davin kembali bertanya. Ariana menidurkan Davin dengan menambahkan beberapa bantal agar Davin masih bisa sedikit tegak.

“Tadi dokter mampir. Dan katanya ada obat yang harus diminum. Mas makan dulu ya sedikit.”

Davin mengangguk. Ia patuh seperti seorang anak kecil yang takut ditinggalkan jika tidak menurut.

Ariana menyendokkan beberapa suapan bubur dan sup ke mulut Davin dengan telaten. Sesekali ia menyeka mulut Davin yang belepotan dengan tisu. 

“Udah.” kata Davin karena merasa sudah tak sanggup lagi untuk menelan.

“Iyaa . . . boleh. Sekarang obatnya diminum ya.” Ariana menyerahkan beberapa pil obat dan membantu Davin memegang gelas nya agar bisa minum lebih mudah.

“Sekarang mas tidur lagi ya, Bantalnya aku lepas beberapa ya?”

Davin mengangguk.

Ariana mengangkat hati-hati kepala Davin dan memposisikan bantal yang cukup, agar Davin bisa berbaring dengan nyaman.

“Sudah nyaman?”

“Iya.”

Ariana lalu membereskan piring dan bersiap keluar.

“Ari mau kemana?” Davin menahan tangan Ariana.

“Mau ke dapur mas beresin piring.”

“Jangan kemana-mana, di sini aja.” Pinta Davin setengah merengek.

Ariana kembali meletakkan piring kotor di nakas. “Yaudah aku di sini sampai kamu tidur.” Ariana lalu duduk di sisi ranjang Davin.

Davin menatap Ariana dalam, ia terus memandangi Ariana tanpa mengatakan apapun.

Ariana balas menatap Davin dengan heran, “Kenapa Mas Davin?”

“Ari. Aku ga ingin kamu ada di sini pas aku sakit aja. Aku ingin kamu ada di sampingku selamanya. Kita nikah aja ya?” tanya Davin.

“Kok ngajak nikah pas sakit. Nanti kalau Mas Davin sudah sehat. Sudah berpikiran jernih baru Mas Davin boleh lamar aku, Tapi suasananya harus bagus, romantis, dan mewah.” Canda Ariana dengan senyuman khasnya.

“Tapi kamu mau ya?” tanya Davin lagi.

Ariana tersenyum, “Iya tentu aku mau.”

“Janji ya? Kita nikah abis aku sembuh.” Davin menarik satu tangan Ariana. Menariknya ke dadanya. Tak lama kemudian ia terlelap.

Begitu Davin terlelap. Air mata Ariana langsung berhamburan keluar. Ia terduduk dilantai. Cengkraman Davin masih sangat kuat sehingga ketika Ariana terduduk dilantai tangan Davin ikut bergerak mengikuti gerakan tangan Ariana. Ariana meletakkan tangan Davin di dahinya, kini tubuh Ariana yang bergetar hebat. Ia menangis dengan cukup kencang. Ia sadar, ia telah menorehkan luka dalam untuk Davin karena kebohongannya. Tapi bagaimana ia juga tidak bisa menahan perasaan cintanya pada Davin. Seharusnya ia tidak memilih Davin, seharusnya ia tidak pernah mencintai laki-laki itu sehingga ia tidak akan menerima cinta Davin dan Davin juga tidak akan  terluka karena dirinya.

Seorang laki-laki yang menjalani kehidupan biasanya, berusaha menjalani hari-harinya dengan trauma masa lalu yang selalu mencengkram hatinya. Ia hidup damai tanpa gangguan sampai dirinya datang ke dalam kehidupan laki-laki itu. Tanpa sengaja dan tanpa sadar membuka hati laki-laki yang sudah lama tertutup. Hati yang laki-laki itu kira tidak akan pernah lagi bisa terbuka. Namun ketika hati itu sepenuhnya terbuka, laki-laki itu harus mendapati kenyataan bahwa wanita yang mengetuk dan berhasil membuka pintu hatinya tidak menawarkan cinta. Hanya menawarkan kebahagiaan semu untuk meluluskan semua rencananya sendiri. 

“Maafin . . . maafin aku Mas Davin.” ujar Ariana disela isaknya. Namun tidak ada balasan hanya ruangan sepi yang jadi saksi  bahwa ia juga begitu terluka sama banyaknya dengan pria yang kini sedang terlelap dalam tidurnya.

NEXT Part 4 (bisa jadi terakhir dari AU OneShot ini, atau bisa jadi juga jadi sampai part 5 atau 6. . . ^^ harap maklum. AU sesuka-sukanya mimin pokoknya)  



Review dan Sinopsis yang mimin tulis murni dari mimin pribadi
Setiap orang berhak untuk setuju atau tidak setuju dengan pendapat mimin
Karena suka atau tidak suka dengan suatu FILM/DRAMA tergantung selera masing-masing
Dan pendapat mimin sama sekali tidak menjadi generalisasi bahwa pendapat orang lain pun sama
Mohon menghormati pendapat mimin, dan mohon berkomentar dengan sopan ya..
Terimakasih.. ^^

Comments

Popular posts from this blog

[Bahas Ending] K-Film "Memoir of A Murderer"

Suka sama akting nam gil

[Sinopsis + Review] C-Drama "King's Woman"

Setelah sekian lama ga BAPER banget sama

[Review + Sinpsis] China-Wuxia-Collosal "Princess Agent"

HUWAAAA suka banget sama drama ini kecuali endingnya TT,TT XiaoLiu harus mendapati dirinya menjadi target